oleh

Perencanaan Pembangunan Kampung Adat Kabupaten Jayapura

JAYAPURA-PAPUA, swararepublik.com – Kampung Bundru Distrik Yapsi merupakan salah satu kampung adat dari 14 kampung adat di Kab. Jayapura-Papua. Pengesahan kampung adat tersebut telah dilakukan sejak akhir Oktober lalu, bertepatan dengan Hari Kebangkitan Masyarakat Adat (24 Oktober). Kala itu, Bupati Jayapura, Mathius Awoitouw mengatakan pengesahan tersebut sebagai kado terindah di hari kebangkitan masyarakat adat.

Gambar: Papan Nama Kampung Adat

Sebagai kampung adat, Bundru memiliki berbagai kekhasan dan kekhususan. Diantaranya bentuk pemerintahan kampung adat.

Sesuai Perda Kabupaten Jayapura nomor 8 tahun 2016, bentuk pemerintahan kampung adat disesuaikan dengan sistem ke-ondoafi-an yang dianut oleh masing-masing masyarakat adat yang sudah terbentuk dan diwariskan turun-temurun.

Pemerintahan kampung adat dipimpin oleh Pemerintah Kampung Adat yang dibentuk oleh Ondoafi (Kepala Suku) melalui forum musyawarah adat.

Pengelolaan Pembangunan di Kampung Adat.
Meski berstatus kampung adat, namun proses perencanaan, pelaksanaan maupun pelaporan pembangunan kampung tetap mengacu pada mekanisme yang telah ditetapkan.  Pernyataan tersebut disampaikan Kepala Distrik Yapsi, Steven Ohee kala membuka kegiatan Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) Kampung Adat Bundru, Sabtu (25/1).

gambar: Evans Albert Yoku dari DPMPK Kab. Jayapura tengah memberikan pengarahan pada pembukaan Musrenbang

Selain kepala distrik, kegiatan tersebut dihadiri juga oleh Kepala Bidang Ketahanan dan Pemberdayaan, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintah Kampung (DPMPK) Kab. Jayapura, Evans Alberth Yoku.

Evans Yoku mengatakan bahwa meski ada kekhasan, namun kampung adat tidak bisa semaunya. “Tetap mengacu pada peraturan dan kebijakan serta mekanisme yang ada” ujarnya.

Lebih jauh, Evans mengatakan bahwa kehadiran dirinya bukan memberikan intervensi pada perencanaan pembangunan kampung, melainkan hanya untuk melihat dan memastikan semua mekanisme berjalan dengan baik dan benar. “Saya hanya ingin memastikan Musrenbang dilalui dan dilaksanakan dengan benar” ungkapnya.

Pada kesempatan tersebut, Evan juga menyampaikan harapannya agar seluruh kampung dapat berpartisipasi pada pagelaran Pekan Olahraga Nasional (PON) XX di Papua. “Kampung-kampung adat dapat berpartisipasi dengan penampilan adat dan budaya seperti tarian dan lain sebagainya” imbuhnya.

Terkait pelaksanaan Musrenbang, dirinya berharap pemerintah kampung adat, Ondoafi (kepala suku), dewan adat dan seluruh masyarakat dapat membicarakan dengan baik kabutuhan dan keinginan untuk kemajuan kampung. “Siapa lagi yang memikirkan dan membangun kampung kalau bukan kita” ujarnya.

“Kita jangan terjebak kebutuhan yang sementara. Kita juga harus berpikir tentang masa depan” lanjutnya. Dia mengajak seluruh elemen untuk juga memperhatikan kesehatan dan pendidikan.

“Pendataan stunting merupakan prioritas. Kedepan kita berharap generasi Papua tidak pendek-pendek seperti saya, tapi generasi yang gagah, ganteng, cantik, sehat dan cerdas” katanya. Untuk itu, pendidikan dan kesehatan merupakan kuncinya.

Dia juga mengutarakan prioritas pembangunan Kab. Jayapura yang dibagi dalam empat wilayah pembangunan. “Kita di wilayah III dan IV diprioritaskan untuk penanaman kakao dan ternak” ujarnya.

Gambar: Perwakilan DPMPK, Kepala Distrik Yapsi, Pemerintah Kampung Adat dan Dewan Adat Kampung Bundru

Pembentukan kampung adat merupakan wujud pengakuan pemerintah kepada hak-hak adat. Selain untuk membangun masyarakat, sesuai amanat Perda no 8/2016, kampung adat juga memiliki tugas untuk membukukan secara tertulis dan mensosialisasikan aturan-aturan adat yang berlaku pada masyarakat adat.

Kampung adat sendiri untuk di Papua hanya ada di Kabupaten Jayapura. Sesuai SK Bupati Jayapura nomor 319 tahun 2014, terdapat 9 wilayah adat di Kab. Jayapura, yaitu 1) Sentani/Bhuyakha, 2) Moi, 3) Tepra, 4) Ormu, 5) Yokari, 6) Jouwarry dan Tarpi, 7) Demutru, 8) Elseng dan 9) Oktim.

Kampung Adat Bundru (bahasa adatnya Bindes) sendiri masuk dalam wilayah adat Oktim bersama Yawalon/Guriad, Wakwak E Tane, Dunun E Tane, Sosbwal E Tane, Ozer E Tane, Tra-tra, Sore, Yadau, Bebo Tuhu, Orya Yaban, Taja, Baumusre, Santosa, Unurum, Dutasem, Jadam,  Nembonton, Siblim, Bengkareng, Jik, Buasom, Klial/Iwatam, Aubase, Grugruje, Sawe, Bogogo/Sebun, Abong, Kablasa/Lereh, Srebo, Soar, Kasu, Takana, Aurina, Mabwararon dan Ures. *

(Tam/Tim)

38

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

1 komentar